September 20, 2018

Selamat Jalan....Sahabatku

by , in
Ilustrasi: freepik.com


"Kullu nafsin dzaaiqotul mauut"
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati" (QS. Ali Imran: 185)


Kematian adalah suatu kepastian. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat lari darinya. Tak dapat pula mengulur-ulur waktunya walau pun hanya sedetik. Semuanya telah ditetapkan oleh Allah kapan, dimana dan bagaimana kita mati. Tak ada yang tau kapan kematian akan menjemput selain Allah. Ketika tiba saat itu, terputuslah segala urusan di dunia. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan seseorang yang berada diujung kematiannya. Lisan tak lagi dapat digerakkan tuk menyebut nama-Nya. Lutut tak dapat ditekuk tuk bersujud kepada-Nya. Telah tertutup pintu taubat. Telah habis masa hidup di dunia.

Sepekan berlalu...sejak Allah memanggil seorang sahabat tuk kembali ke sisi-Nya. Sahabat yang pernah begitu dekat. Bersama-sama menjalani hari-hari penuh keceriaan. Duduk bersebelahan di bangku sekolah. Saling berbagi canda, suka, maupun duka. Banyak kenangan kami lewati bersama. Saling berbagi bekal sekolah, belajar bersama-sama, mengerjakan tugas bersama, bahkan dimarahi guru pun bersama. Hingga saling menguatkan ketika salah satu dari kami mengalami kesedihan. Tertawa bersama ketika kebahagiaan menghampiri kami. Saling mendukung tuk kesuksesan kami. Dan ketika kabar duka itu kudengar...ingatanku seakan merajut kembali kepingan kenangan yang telah kita lalui bersama.

Engkau adalah sahabatku yang selalu ceria. Sungguh jarang kudapati dirimu berkeluh kesah. Bahkan ketika ayahmu mendahuluimu, kau terlihat begitu tabah. Tak memerlukan waktu yang lama bagimu untuk kembali bangkit menatap kehidupan. Setiap masalah selalu kau hadapi dengan semangat. Tak kenal menyerah, ulet dalam segala hal. Sungguh hancur hatiku...begitu ku dengar Allah mengujimu dengan sakit. Terlebih lagi, kita berdua terpisah dalam jarak yang tidak dekat. Teriris hati ini saat kau mengatakan 'aku kangen anak-anak'. Karena dengan sakit itu, kau harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama. Berpisah dari anak-anak, menjadi hal yang tak terelakkan lagi bagimu. Aku pun seorang ibu yang sangat paham bagaimana rasanya jauh dari anak. Tapi, aku tau kau sangat optimis untuk sembuh. Disaat aku masih memupuk rasa tenang di hati, justru kau bilang 'aku harus kuat, aku harus sembuh'. Beberapa saat sebelum kau berpulang, tak henti-hentinya kau memintaku untuk tak pernah bosan mendoakanmu. 'Mohon doakan aku selalu', hanya kalimat itu yang terlontar darimu di saat terakhirmu.

Lilis, saat ini ku yakin tak ada lagi rasa sakit yang harus kau rasakan. Allah telah cukupkan jihadmu untuk melawan sakitmu. Banyak orang yang kehilangan dirimu. Banyak orang yang sayang padamu. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima semua amalmu, menempatkanmu di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Untuk putra-putrimu yang engkau tinggalkan, aku yakin Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuk mereka. Insyaallah, mereka akan menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang selalu mendoakan ibunya. Karena hanya doa merekalah yang akan mengalirkan amal jariyah kepadamu.

Selamat jalan, Lilis....Engkau adalah sahabat terbaikku.
February 26, 2018

Kerja Bakti dan Spageti

by , in
Ternyata menjawab tantangan #15haribercerita itu tidak mudah. Tinggal satu hari lagi tantangan tersebut akan berakhir, namun saya baru memulai tulisan yang ke 10. Hmm,,,gapapa deh. Namanya juga latihan. Lagipula beberapa hari yang lalu saya disibukkan dengan pelatihan-pelatihan yang menguras tenaga dan waktu *alesan...

Tulisan kali ini hanya ingin berbagi mengenai aktifitas di keluarga kami di akhir pekan. Bukan akhir pekan kemarin, tapi sudah dua minggu yang lalu saat ada longweekend. Hehehe...semoga ga basi. 

Bagi sebagian keluarga, longweekend biasanya diisi oleh kegiatan wisata atau sekedar jalan-jalan ke mall. Tapi tidak bagi keluarga saya. Tidak ada rencana untuk bepergian saat itu. Ditambah lagi, ayah ada acara tiga hari fullday yang tidak bisa ditinggalkan. Jadilah, kami di rumah saja menghabiskan longweekend.

Longweekend di rumah saja, bukan berarti sangat membosankan. Kebetulan mas adzka mendapatkan tugas untuk melakukan bekerja bakti di rumah. Setiap anggota keluarga diberi tugas melakukan satu kegiatan untuk membersihkan rumah. Misalnya, menyapu lantai, membersihkan jendela, menyiram tanaman dan lain-lain. Setelah selesai kerja bakti, mas adzka diminta menuliskan pengalaman selama melakukan kerja bakti. Tak disangka semuanya bersemangat untuk membersihkan rumah. Mas adzka dan dek Hana saling berebutan untuk melakukan tugas yang mereka inginkan. Walaupun, hasil bebersihnya masih belum bisa sempurna. Namun, anak-anak dapat belajar untuk bekerja sama.

Selesai kerja bakti, anak-anak langsung nagih minta dibuatkan spageti. Sebagai tanda apresiasi atas kerja bakti yang mereka lakukan, saya pun langsung membuatkan mereka spageti. Spageti yang saya buat masih versi sederhana. Bahannya hanya berupa spageti dan saus. Sausnya terdiri dari campuran bawang bombay, bawang putih, daging cincang, saos tomat, keju, lada, gula dan garam. Sangat mudah dan cepat membuat spageti ini. Begitu disajikan, spageti
langsung ludes tak bersisa :)



#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe10
February 19, 2018

Seminar WAG Kepenulisan "Produktif Membunyikan Data Dengan Opini"

by , in

Bersyukur rasanya dapat bergabung dalam sebuah grup WA yang sangat memberikan manfaat. Salah satu grup yang saya ikut yaitu Grup "Perempuan BPS Menulis". Grup ini digagas oleh dek nurin yang sangat menginspirasi para member grup untuk terus menulis. Peserta ditantang untuk membuat tulisan sebanyak 15 artikel dalam waktu 25 hari. Tak berhenti disitu saja, dek nurin yang dibantu beberapa rekan berusaha untuk menghadirkan pembicara untuk menambah wawasan para peserta tentang kepenulisan.

Seperti pada hari Sabtu 17 Februari 2018 yang lalu, dek nurin membuat Seminar Kepenulisan yang bertajuk "Produktif Membunyikan Data Dengan Opini". Pembicara kali ini dihadirkan dari kalangan pegawai BPS yang sangat produktif dalam menulis opini di media masa. Beliau bernama mbak Tasmilah. Kali ini mbak Tasmilah memaparkan tahapan-tahapan dalam membuat opini dengan menggunakan data-data strategis yang dimiliki oleh BPS dan tak lupa pula memberikan tips-tips bagaimana kita bisa "tanggap" terhadap data. 

Berikut resume mengenai seminar "Produktif Membunyikan Data Dengan Opini":
Dalam menulis opini, ada tahapannya, sy buat poin-poinnya aja yaa
A. Proses Menulis Opini
1 menentukan tema yang aktual, 
2. menentukan sudut pandang (angle) atau perspektif . 
3. mencari dan menggunakan referensi/rujukan, pendapat para ahli.
4. memulai menulis , memetakan dan mengidentifikasi masalah, membahas permasalahan yang sudah diidentifikasi , sampai membuat konklusi.

B. Menentukan tema Aktual dapat dilakukan dengan cara:
1. Amati berita headline koran-koran utama yang memiliki reputasi baik setiap hari selama 4 hari
2. Amati berita TV berita selama seminggu. 
3. Baca situs-situs berita mainstream, seperti kompas.com, detik.com, vivanews.com dll. 
4. Ikuti berita yang dimuat berulang selama 3-4 hari.

C. Struktur Tulisan Opini
1. judul 
2. Pendahuluan
3. Pembahasan
4. Kesimpulan
atau 
1. Judul : Singkat, padat, jelas (3-5 kata)
2. Pembuka (lead) : merupakan kalimat atau paragraf pembuka yang mengajak, menggoda, mengusik pembaca agar terus membaca sampai tuntas.
3. Penjelas (Batang Tubuh)
4. Penutup (ending)

D. Menyusun Alinea
1. Satu alinea biasa mengandung satu pokok pikiran
2. Uraikan inti masalah dengan singkat (3-5 kalimat)
3.  Sifatnya, apakah menanggapi opini orang lain atau mengajukan opini tersendiri?
4. Uraikan pokok pikiran utama (main idea) menjadi beberapa pokok pikiran penunjang/turunan
5. Hubungkan satu alinea dengan alinea selanjutnya dengan jembatan pikiran (bridging) yang kuat
 6. Hubungan antar alinea bisa bersifat: kronologis (waktu), spasiologis (ruang), dan kausalitas (sebab-akibat)

E. Pentingnya Data
1. Data penting untuk memperkuat pendapat yang diajukan, apalagi BPS merupakan gudangnya data. Penulis dari BPS diuntungkan dengan ini. tiap bulan BPS selalu merilis data. ini bisa menjadi ide untuk menulis tiap bulan.
2. Referensi penting untuk menunjukkan bahwa semua pendapat yang sama/berbeda sudah dipertimbangkan.

F. Edit
1. Selesaikan draf, apapun bentuknya, tulis aja apa yang ada di kepala sampai bener-bener mentok..
2. Endapkan tulisan awal selama beberapa waktu, cari inspirasi/kesibukan, perhatikan deadline.
3 Tinjau ulang draf awal dan periksa dari segi substansi, struktur argumentai, atau gaya penulisannya.
4. Bisa meminta pendapat atau masukan dari teman sebelum dikirim ke redaksi.

G. Buatlah Profil menarik
1. Biodata yang memuat pendidikan dan pekerjaan kita, ini untuk menunjukkan kompetensi kita sebagai penulis. Contoh Tasmilah. ASN di BPS, Pendidikan DIV statistik Ekonomi. kalo perlu tulis juga penulis opini di Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Radar Banten, dst.
2. Alamat yang mudah dihubungi, scan ktp, foto, dan norek npwp (jika koran nasional)

H. mengirim Ke Redaksi

Seminar terus berlanjut ke sesi tanya jawab. Dalam sesi ini banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan teknik menulis dan menganalisa data. Selain itu juga dibahas mengenai bagaimana mengatur waktu antara pekerjaan, keluarga dan menulis yang tentu saja kesemuanya harus seimbang. Seminar yang sangat bergizi dan bermanfaat bagi semuanya. Barakallahu kepada dek nurin dan panitia, serta mbak Tasmilah yang besedia membagikan ilmunya kepada kami semua.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe9

February 16, 2018

Tangerang-Serang (PP)

by , in
Setelah lima hari vakum, saya mencoba membuat tulisan kembali untuk memenuhi tantangan 15 Hari Bercerita. Beberapa hari yang lalu memang tidak memungkinkan bagi saya untuk menulis. Saya harus mengikuti pelatihan pengolahan sakernas yang diselenggarakan di Serang, Banten.
Mengikuti pelatihan bukanlah menjadi hal yang baru bagi saya. Sudah menjadi rutinitas dari pekerjaan saya sebagai pegawai BPS. Pelatihan biasanya dilaksanakan menjelang berjalannya suatu kegiatan.

Serang adalah ibukota provinsi Banten. Beberapa pelatihan di lingkungan BPS Banten diselenggarakan di kota ini. Para peserta biasanya diberikan fasilitas penginapan di lokasi pelatihan. Namun, ada beberapa peserta yang memilih untuk tetap pulang pergi dengan alasan masih memiliki anak kecil. Saya pun memilih opsi itu. Walaupun jarak yang harus ditempuh tidaklah dekat yaitu sekitar 70km dari rumah.

Bukan pertama kalinya saya pulang pergi ke Serang ketika pelatihan. Namun, kali ini ada yang berbeda. Biasanya kami sekantor berombongan dengan mengendarai mobil yang dikemudikan salah satu teman saya. Atau, mengendarai bis umum. Waktu tempuh yang diperlukan biasanya sekitar 1-1,5 jam. Pelatihan kali ini hanya diikuti dua orang. Saya dan teman saya, Rima. Diantara kami berdua, hanya saya yang bisa mengendarai mobil dan saya belum pernah mengendarai mobil sampai Serang.

Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk menggunakan bis umum di hari pertama dan kedua. Baru hari terakhir saya akan naik mobil. Harapannya, kami bisa istirahat (tidur) di bis. Ternyata, perjalanan dengan menggunakan bis umum terasa begitu lama. Dan saya sendiri tidak dapat memejamkan mata di bis. Akhirnya, saya putuskan, di hari kedua saya akan mengendarai mobil sendiri. Ini pengalaman pertama saya mengendarai mobil dengan jarak yang lumayan jauh. Alhamdulillah, perjalanan selama dua hari Tangerang-Serang (PP) lancar.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe8
February 10, 2018

Infografis: Inovasi Terkini Dari BPS

by , in
Badan Pusat Statistik merupakan lembaga pemerintah non kementrian yang bertanggung jawab melaksanakan tugas pemerintah di bidang statistik. Tugas BPS di bidang statistik meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hingga penyajian data statistik baik kepada pemerintah maupun masyarakat. Dalam pelaksanaannya, tentu saja BPS harus terus melakukan inovasi agar data yang dihasilkan lebih berkualitas. Salah satu hal yang menjadi perhatian BPS untuk terus dikembangkan yaitu mengenai pelayanan publik.

Beberapa prestasi telah ditorehkan oleh BPS di bidang pelayanan publik. Salah satunya adalah terpilihnya website BPS sebagai top 35 dalam inovasi pelayanan publik tahun 2016. Selain itu, dalam penilaian PEGI atau Pemeringkatan E-Government Indonesia Tingkat LPNK tahun 2015, BPS menduduki peringkat satu. Sungguh, suatu prestasi yang membanggakan sekaligus wajib untuk dipertahankan.

Oleh karena itu, BPS tidak berhenti sampai di sini saja. BPS terus melakukan inovasi di bidang pelayanan publik. Salah satunya dengan mengembangkan infografis. Infografis merupakan salah satu teknik penyajian data dalam bentuk grafis. Data yang sebelumnya berupa angka-angka, disajikan dalam bentuk grafis atau gambar. Harapannya, dengan adanya infografis, data yang disajikan bisa lebih mudah dipahami dan menarik. BPS pun mulai menggalakkan program infografis ini sampai ke BPS Kabupaten/Kota.

Untuk meningkatkan kualitas infografis yang dihasilkan, BPS telah menyelenggarakan beberapa pelatihan yang diikuti oleh pegawai BPS di lingkungan pusat maupun daerah. BPS pun pernah menyelenggarakan lomba infografis untuk memancing kreatifitas pegawai BPS. Semua kegiatan ini bertujuan agar BPS dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada publik.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe7
February 08, 2018

Sudah Benarkah Manajemen Keuangan Kita?

by , in
Ada satu materi menarik yang saya dan teman-teman kantor dapatkan dalam rangkaian acara Capacity Building beberapa bulan yang lalu yaitu tentang Manajemen Keuangan. Materi ini terasa begitu berbeda bagi kami yang biasanya hanya mendapatkan materi seputar kegiatan kantor. Materi Manajemen Keuangan ini disampaikan oleh pakar Financial Planner yang bernama Leo Akbar. Beliau sudah punya banyak pengalaman di bidang finansial. Beliau juga sering bekerjasama dengan tokoh keuangan terkenal, Ahmad Ghozali.

Penyampaian yang atraktif dan materi yang menarik sungguh lengkap disajikan dalam satu sesi tersebut. Semua peserta memperhatikan dengan seksama setiap penjelasan yang diberikan oleh Pak Leo. Sampai-sampai, waktu satu sesi dirasa masih kurang untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman semua. 

Penjelasan beliau diawali dengan topik mengenai pola pikir jadul dalam mengatur keuangan rumah tangga. Dimana biaya hidup menjadi prioritas pertama. Barulah pengeluaran-pengeluaran yang lainnya seperti untuk cicilan hutang, kewajiban agama/sosial, dan yang terakhir menabung. Menabung dijadikan prioritas terakhir yang kadang kala jika tidak ada sisa, maka tidak jadi menabung. Inilah pola manajemen keuangan yang diterapkan oleh sebagian besar orang saat ini. Tak dapat dipungkiri, bagi sebagian orang pola ini menjadi kacau balau ketika kebutuhan hidup membengkak atau ada kebutuhan mendesak. Pada akhirnya, kembali lagi harus berhutang. Gali lubang tutup lubang. Jangankan untuk menabung, untuk membiayai kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup.

Lalu, bagaimana seharusnya mengatur keuangan? Yang pertama adalah prioritaskan kewajiban utama kita. Apa kewajiban utama kita? Tentu saja, hubungan kita dengan Allah. Jadi, prioritas utama kita adalah membayar zakat. Kemudian yang kedua masih tentang kewajiban yaitu membayar hutang dan cicilan. Jika kewajiban telah terpenuhi, baru kita melangkah ke prioritas ke tiga. 

Ooh, jadi, prioritas ketiganya untuk memenuhi biaya hidup ya? Bukan! Prioritas ketiganya adalah menabung atau investasi. Setelah ketiga pos tadi terpenuhi, barulah kita memikirkan biaya hidup. Kok bisa? Jadi biaya hidup hanya menggunakan uang sisa? Yup, betul sekali. Kenapa bisa demikian? Karena biaya hidup bisa dinegosiasikan. Misalnya, kita punya uang 500 ribu dan ingin beli baju. Kita bisa bernegosiasi untuk membeli baju seharga 200 ribu saja. Tidak harus memaksakan diri beli baju 500 ribu dan akhirnya uang kita habis. Okay, itu kalau baju. Bagaimana dengan biaya sekolah anak? Bukankan itu biaya yang harus tersedia. Uang sekolah pun bisa dinegosiasikan. Ketika memilih sekolah, tentu saja kita harus mengukur kemampuan kita. Kalau kita tidak mampu dengan SPP sebulan 1 juta, ya kita pilih saja sekolah dengan SPP 500 ribu per bulan. Dengan berbagai pertimbangan dari segi kualitas dan fasilitas sekolah. Artinya itu semua bisa dikompromikan dan dinegosiasikan.

Diskusi bersama Pak Leo berlanjut hingga ke pembahasan bisnis dan investasi. Beliau sendiri seorang praktisi yang sudah memiliki beberapa perusahaan. Saya berharap dapat berdiskusi lebih lama lagi dengan beliau. Namun, waktu yang diberikan oleh panitia sangatlah terbatas. Semoga di lain waktu, kami diberi kesempatan untuk berdiskusi lebih lanjut tentang finansial. Terima kasih atas ilmunya, Pak Leo. 

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe6
February 08, 2018

Beasiswa S2 GCIO Kementrian Kominfo

by , in
Keinginan untuk mendaftar kuliah lagi muncul di tahun ke-lima setelah saya bekerja di BPS. Pada awalnya keinginan itu belum terlalu menggebu-gebu. Disamping karena anak-anak yang masih terlalu kecil sehingga banyak menyita perhatian saya. Kebanyakan beasiswa yang ditawarkan, tempat perkuliahannya berada di luar kota. Jelas saja saya tidak tertarik. Saya ingin kuliah, tapi saya tidak mau meninggalkan anak-anak. Ini sudah menjadi prinsip saya, dan di-amin-i juga oleh suami. 

Iseng-iseng saya melihat-lihat tawaran beasiswa dari Kementrian Kominfo, beasiswa S2 GCIO. Dari namanya saja saya sudah merasa asing. Padahal, saya lulusan D4 Komputasi Statistik. Yahh, masih ada lah hubungannya dengan komputer dan teknologi informasi. Lalu, apakah sebenarnya GCIO?

CIO, atau singkatan dari Chief Information Officer biasanya merujuk pada sebuah jabatan yang bertanggung jawab pada setiap strategi dan keputusan yang berkaitan dengan teknologi informasi di suatu perusahaan. Lalu, singkatan apakah huruf G-nya? G merujuk pada Government. Jadi, GCIO atau Government Chief Information Officer adalah CIO yang dikhususkan untuk instansi pemerintah. Dengan demikian, beasiswa GCIO ini memang hanya ditujukan untuk pegawai negeri sipil baik di lingkungan pemerintah pusat maupun daerah.

Di era teknologi yang semakin berkembang dengan pesat ini, perlu sumber daya manusia handal yang menguasai bidang Teknologi Informasi (TI) di lingkungan pemerintahan. Harapannya, SDM ini nantinya menjadi ujung tombak pengembangan TI di instansi masing-masing. Oleh karena itu, Kementrian Kominfo membuka beasiswa S2 GCIO ini. Beasiswa ini dibuka di beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia. Yaitu, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Universitas Negeri Padang.

Lalu, apakah yang mendaftar harus dari jurusan S1 Teknologi Informasi? Ternyata tidak, Lulusan S1 dengan berbagai latar belakang jurusan bisa mendaftar beasiswa ini. Justru yang terpenting adalah pengalaman kerja di bidang Teknologi Informasi. Nah, bagaimana dengan tunjangannya? Ini nih yang sering kali ditanyakan. Ada sih tunjangan dari Kementrian Kominfo yang diberikan setiap beberapa bulan sekali. Tapi, besarannya jangan dibandingkan dengan beasiswa-beasiswa yang lain ya...;)

Dari prinsip yang saya pegang tadi, maka saya menjatuhkan pilihan untuk mendaftar ke GCIO Universitas Indonesia. Hampir sebagian besar perkuliahan dilakukan di kampus Salemba. Sehingga, masih terjangkau dengan perjalanan pulang pergi dari rumah. Yang tertarik dengan beasiswa ini, langsung saja klik link berikut: Beasiswa S2 GCIO.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe5

My Instagram