February 08, 2018

Beasiswa S2 GCIO Kementrian Kominfo

by , in
Keinginan untuk mendaftar kuliah lagi muncul di tahun ke-lima setelah saya bekerja di BPS. Pada awalnya keinginan itu belum terlalu menggebu-gebu. Disamping karena anak-anak yang masih terlalu kecil sehingga banyak menyita perhatian saya. Kebanyakan beasiswa yang ditawarkan, tempat perkuliahannya berada di luar kota. Jelas saja saya tidak tertarik. Saya ingin kuliah, tapi saya tidak mau meninggalkan anak-anak. Ini sudah menjadi prinsip saya, dan di-amin-i juga oleh suami. 

Iseng-iseng saya melihat-lihat tawaran beasiswa dari Kementrian Kominfo, beasiswa S2 GCIO. Dari namanya saja saya sudah merasa asing. Padahal, saya lulusan D4 Komputasi Statistik. Yahh, masih ada lah hubungannya dengan komputer dan teknologi informasi. Lalu, apakah sebenarnya GCIO?

CIO, atau singkatan dari Chief Information Officer biasanya merujuk pada sebuah jabatan yang bertanggung jawab pada setiap strategi dan keputusan yang berkaitan dengan teknologi informasi di suatu perusahaan. Lalu, singkatan apakah huruf G-nya? G merujuk pada Government. Jadi, GCIO atau Government Chief Information Officer adalah CIO yang dikhususkan untuk instansi pemerintah. Dengan demikian, beasiswa GCIO ini memang hanya ditujukan untuk pegawai negeri sipil baik di lingkungan pemerintah pusat maupun daerah.

Di era teknologi yang semakin berkembang dengan pesat ini, perlu sumber daya manusia handal yang menguasai bidang Teknologi Informasi (TI) di lingkungan pemerintahan. Harapannya, SDM ini nantinya menjadi ujung tombak pengembangan TI di instansi masing-masing. Oleh karena itu, Kementrian Kominfo membuka beasiswa S2 GCIO ini. Beasiswa ini dibuka di beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia. Yaitu, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Universitas Negeri Padang.

Lalu, apakah yang mendaftar harus dari jurusan S1 Teknologi Informasi? Ternyata tidak, Lulusan S1 dengan berbagai latar belakang jurusan bisa mendaftar beasiswa ini. Justru yang terpenting adalah pengalaman kerja di bidang Teknologi Informasi. Nah, bagaimana dengan tunjangannya? Ini nih yang sering kali ditanyakan. Ada sih tunjangan dari Kementrian Kominfo yang diberikan setiap beberapa bulan sekali. Tapi, besarannya jangan dibandingkan dengan beasiswa-beasiswa yang lain ya...;)

Dari prinsip yang saya pegang tadi, maka saya menjatuhkan pilihan untuk mendaftar ke GCIO Universitas Indonesia. Hampir sebagian besar perkuliahan dilakukan di kampus Salemba. Sehingga, masih terjangkau dengan perjalanan pulang pergi dari rumah. Yang tertarik dengan beasiswa ini, langsung saja klik link berikut: Beasiswa S2 GCIO.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe5
February 06, 2018

Takdir Membawaku Ke MTI

by , in
Melihat foto wisuda di timeline FB, membuat saya mengingat memori dua tahun yang lalu. Ya, tepat dua tahun yang lalu saya lulus dari MTI UI (Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia). Perjalanan saya dalam menyelesaikan kuliah pasca sarjana dua tahun yang lalu merupakan kenangan yang tak terlupakan. Tidak mudah bagi saya untuk menjalaninya. Pun keluarga saya. Mulai dari membuat keputusan back to campus sampai lika-liku dunia perkuliahan.

Kepenatan dan kebosanan menjalani rutinitas pekerjaan menjadi pendorong saya untuk membuat proposal beasiswa. Awalnya saya ragu, apakah ini keputusan yang tepat? Mengingat sudah ada dua krucil yang menyita waktu dan perhatian. Ah, bukankah banyak yang bilang kalau kuliah itu bakalan punya banyak waktu? Tapi, ada juga yang bilang tugas-tugasnya banyak banget. Berbekal diskusi dengan beberapa teman dan suami serta sholat istikharah,,,,bismillah, akhirnya saya kirimkan juga proposal beasiswa saya.

Setelah proposal beasiswa itu saya kirim, mau tidak mau saya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk UI (SIMAK UI). Saya hanya memiliki waktu satu bulan untuk mempelajari TPA dan TOEFL. Saya tidak tahu apakah ada teman lain yang mendaftar juga. Singkat cerita, Alhamdulillah, saya di terima di MTI UI. Dan berdasarkan pengumuman dari kampus, saya baru tahu ternyata ada beberapa teman dari BPS yang saya kenal.

Kampus UI Salemba menjadi tempat perkuliahan kami. Jadwal kuliah kami kebanyakan jatuh pada siang hari. Namun, ada kalanya kami mendapatkan jadwal kuliah malam. Setiap hari, saya berangkat pulang-pergi dengan menggunakan commuter line. Perjalanan yang harus saya tempuh lumayan panjang, sekitar 1,5 sampai 2 jam. Untungnya, jadwal berangkat saya siang, jadi tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang yang berangkat kerja. Lain halnya dengan saat pulang, saya harus berdesakan dengan penumpang lain karena berbarengan dengan jadwalnya orang pulang kerja.

Semester satu saatnya beradaptasi dengan aktivitas baru, jadwal baru, lingkungan serta teman-teman baru. Di semester satu ini masih belum terlalu banyak tekanan dari kampus. Kalau teman-teman bilang, saatnya menikmati waktu luang. Karena kami semua tau, di semester dua nanti, sudah saatnya mengencangkan ikat pinggang. Pasalnya, agar dapat menulis tugas akhir di semester tiga, maka syarat yang harus kami penuhi adalah minimal nilai A- pada mata kuliah Metodologi Penelitian (semester 2). Tidak bisa main-main dengan mata kuliah ini, karena dosen yang mengampu mata kuliah ini terkenal tegas dan disiplin.

Qadarullah, saya hamil di tengah semester dua. Awalnya, saya takut tidak bisa menyelesaikan kuliah dengan baik. Beasiswa yang saya terima hanya untuk 3 semester saja. Selebihnya, mahasiswa sendiri yang harus membayar jika memerlukan waktu tambahan. Saya pun pasrah jika memang harus menambah waktu kuliah dan membayar kuliah sendiri. Tapi, saya tidak menyerah begitu saja. Saya tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Dalam kondisi hamil saya mondar-mandir antara Tangerang-Salemba. Terkadang harus ke BPS RI yang berada di Pasar Baru untuk bertemu subject matter. Bahkan, terkadang saya harus ke UI Depok untuk menemui dosen pembimbing. Kuliah malam tetap berjalan. Tugas-tugas kelompok dan tugas akhir tidak bisa dikesampingkan.

Di semester tiga saya melahirkan putra ketiga. Di semester ini pula saya mengejar ketinggalan dari teman-teman yang lain. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah banyak membantu saya. Dan juga suami siaga yang bersedia menjemput di kala saya harus pulang malam. Alhamdulillah, perjuangan itu berakhir dengan indah. Saya berhasil menyelesaikan kuliah tepat tiga semester dengan hasil yang memuaskan. Saya bersyukur dapat menyelesaikan semuanya dengan baik.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe4
February 06, 2018

Liburan Yang Menyenangkan Di World of Wonders

by , in

Liburan akhir tahun 2017 kemarin sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Seperti biasa, jika ada waktu libur, eyang-eyang selalu menyempatkan diri untuk menengok cucu di Tangerang. Kali ini terasa lebih ramai karena bulik dan para sepupu saya ikut datang bersama eyang. Anak-anak sangat senang dengan kedatangan mereka. Di tambah lagi kami berencana untuk berwisata ke tempat bermain di akhir pekan.

Tempat wisata yang menjadi pilihan kami adalah World of Wonders (WOW) yang terletak di Cikupa, Kabupaten Tangerang. WOW merupakan tempat bermain anak-anak yang didalamnya terdapat berbagai wahana seperti bianglala, jetcoaster, sepeda udara, bebek air, rumah hantu, bom-bom car dan masih banyak lagi. Tempat wisata ini mirip dufan, tapi dengan versi yang lebih kecil. Walau lebih kecil, tetap saja kami puas bermain di WOW ini. Bahkan sampai sore pun masih ada beberapa wahana yang belum sempat kami coba.

Ada beberapa pertimbangan kenapa kami memilih WOW sebagai tujuan kami. Yang pertama, jarak yang dekat dengan Kota Tangerang. Hanya dengan jarak sekitar 25 km, kami bisa sampai tujuan dalam waktu sekitar 45 menit saja. Lokasi WOW ini tepatnya berada di dalam perumahan Citra Raya. Untuk menuju Perumahan Citra Raya kami lewat jalan tol dan keluar di pintu tol Bitung. Tak jauh dari pintu tol tersebut, kami sampai di Perumahan Citra Raya. Cukup mudah jalur yang kami lalui. Dan yang paling menyenangkan adalah tidak ada macet sama sekali. Yeayy...

Pertimbangan yang kedua yaitu biaya yang terjangkau. Dibanding dengan dufan, WOW sangatlah terjangkau. Tiket masuk per orangnya 80 ribu rupiah. Untuk anak yang tingginya sudah di atas 85 cm, tetap dikenai tiket dewasa. Dengan tiket tersebut, kita sudah bisa bermain di semua wahana dan setiap wahana dapat dimainkan sebanyak dua kali. Sebenarnya ada waterboom juga di sini. Tiketnya terpisah dari WOW. Tapi, kalau membeli tiket terusan, akan lebih murah harganya. Kami sekeluarga memang tidak berencana ke waterboom. Jadi, kami hanya membeli tiket WOW saja.

Begitu tiket ada di tangan, kami langsung saja masuk melalui pintu masuk yang dijaga oleh beberapa orang petugas. Petugas itu akan mengecek tiket yang kami pegang kemudian memasangkan tiket tersebut ke pergelangan tangan kami. Tiketnya memang berbentuk memanjang dan tidak terlalu lebar. Jadi, kami memakainya seperti memakai gelang. Tiket itu tahan terhadap air. Jadi ketika berwudhu atau ke toilet, tidak perlu melepas gelang tiket. Karena kalau tiket sudah rusak, kita tidak bisa  bermain lagi.

Tiba saatnya untuk mencoba beberapa wahana. Terlihat antrian pengunjung di setiap wahana, namun menurut saya antrian itu tidak terlalu panjang. Kami tidak perlu menunggu lama untuk bermain. Anak-anak terlihat sangat senang mencoba beberapa wahana. Tapi, ada juga beberapa wahana yang mereka sendiri tidak berani untuk mencoba. 








Tak terasa hari beranjak siang, saya mengajak anak-anak untuk istirahat sembari makan siang dan sholat. Memasuki tempat wisata ini pengunjung memang tidak diperkenankan untuk membawa makanan. Namun, jangan khawatir, di dalam ada kantin yang menawarkan berbagai jenis makanan. Sebut saja, ayam krispi, pecel ayam, ayam bakar, bento dan lain-lain. Jangan khawatir juga mengenai harganya. Menurut saya, harganya cukup terjangkau kok...yaitu sekitar 20-30rb per porsi. Porsinya cukup mengenyangkan dan rasanya tidak mengecewakan. 

Setelah ishoma, anak-anak masih ingin mencoba bermain beberapa wahana lagi. Karena hari sudah mulai sore, pengunjung sudah mulai berkurang. Sampai-sampai dalam satu wahana, sudah tidak ada lagi yang mengantri. Jadi, anak-anak langsung bisa bermain dua kali dalam satu wahana. 

Tak terasa waktu cepat berlalu. Setelah Sholat Ashar, barulah anak-anak mau diajak untuk pulang. Alhamdulillah, semua senang dan menikmati wisata kali ini. Menurut saya, WOW sangat recomended untuk liburan anak-anak. Selain beberapa hal yang sudah saya sebut di atas, fasilitas seperti Mushola dan Toilet-nya pun cukup bersih. Andaikan ingin bermain air, tersedia juga kolam kecil untuk sekedar berbasahan ria. Yang ingin membawa anak-anak berlibur, tempat wisata ini patut dicoba!

Sumber Gambar: http://citrarayaworldofwonders.com

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe3
February 04, 2018

Membiasakan Muroja'ah Untuk Anak

by , in
Muroja'ah atau mengulang kembali hafalan Al Qur'an yang telah dimiliki merupakan agenda wajib bagi seorang penghafal Al Quran. Tidak mudah bagi setiap orang untuk konsisten muroja'ah setiap hari. Saya sendiri belum mampu melaksanakannya. Namun, Alhamdulillah saya dan suami mulai bisa membiasakannya pada anak-anak kami beberapa bulan belakangan.

Pada awalnya, kami pun merasa terbebani dengan agenda muroja'ah tiap hari ini. Mengkondisikan anak-anak yang masih 'males' di pagi hari untuk mau menghafal tentu tidak mudah. Kami memang memilih waktu di pagi hari setelah sholat subuh, karena memang hanya itu waktu luang yang kami punya. Berbagai bujukan, rayuan hingga paksaan pun pernah kami lakukan. Alhamdulillah, dengan izin Allah, sekarang agenda muroja'ah tiap pagi menjadi kebiasaan. Yang dulunya harus dirayu-rayu lama, sekarang mas adzka sudah mulai meminta untuk muroja'ah. Bahkan adeknya pun ikutan minta  muroja'ah. Apa resepnya? Saya sendiri kurang tau -_-' *maaf ya kalau malah jadi bingung hehe

Jujur saja, tidak ada resep khusus agar anak bisa sadar diri untuk muroja'ah. Kami hanya mencoba konsisten agar setiap hari anak bisa bermuroja'ah. Kadang kala lupa atau terlewat juga sih. Tapi, kalau terlewat, akan kami rapel di hari berikutnya. Sehingga, yang tadinya tidak biasa menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Mungkin hal ini cocok dengan ungkapan "witing tresno jalaran soko kulino" (datangnya cinta karena terbiasa). Karena kegiatan muroja'ah ini dilakukan tiap hari tanpa henti, secara tidak langsung akan membangunkan alarm dari dalam diri secara otomatis. Seperti sholat, kita semua pasti sudah secara otomatis melaksanakan sholat ketika ada panggilan adzan. Hal ini terjadi karena kita sudah dibiasakan untuk sholat dalam kurun waktu yang lama.

Agar bisa konsisten melaksanakan agenda ini setiap hari tentu orang tua harus memiliki tekad dan perencanaan yang baik. Hanya mengulang hafalan saja apakah perlu perencanaan? Perlu banget! Tanpa perencanaan yang baik, pasti tidak akan memperoleh hasil yang maksimal.Saya mencoba untuk berbagi beberapa hal yang saya lakukan dalam agenda muroja'ah. Disini yang saya contohkan adalah agenda untuk anak-anak. Tetapi tentu saja bisa diterapkan juga untuk orang dewasa.

Pertama, luruskan niat hanya untuk meraih ridho Allah

Kedua, tentukan berapa jumlah surat yang akan dihafal dalam kurun waktu satu bulan. Tidak perlu banyak-banyak untuk awalannya. Misalnya mulai dari Surat An-Naas sampai Al Kafirun, terdapat enam surat. Bisa dikurangi atau ditambah, sesuaikan dengan kemampuan anak-anak kita.

Ketiga, tetapkan kapan waktu untuk muroja'ah. Pastikan pada waktu tersebut tidak ada kegiatan lain yang mengganggu. Kalau kami di rumah paling enak itu pagi setelah Sholat Subuh.

Keempat, buat lembar mutaba'ah muroja'ah. Buatlah tiga buah kolom yang terdiri dari tanggal, surat, dan keterangan. Kemudian, isikan tanggal 1-30 pada kolom tanggal. Pada kolom surat, tentukan dua surat saja untuk dihafalkan dalam satu hari. Contoh: tanggal 1, Surat An-Naas dan Al Falaq. Tanggal 2, Surat Al Ikhlas dan Al Lahab. Tanggal 3, Surat An Nashr dan Al Kafirun. Kemudian Tanggal 4,5,6 diulang lagi dari awal. Begitu seterusnya sampai tanggal 30.
Setelah selesai satu bulan, buat lagi agenda baru dengan menambah jumlah surat yang akan dihafal. Tetapi, surat yang dihafal dibulan pertama tetap harus dihafal juga di bulan berikutnya. Beban hafalan bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Karena kemampuan menghafal pada anak itu berbeda-beda.
Untuk kolom keterangan, bisa diisikan dengan kesalahan bacaan, tajwid, ataupun sikap anak-anak pada saat muroja'ah. Kolom ini nantinya bisa dijadikan sebagai acuan evaluasi.

Kelima, kerjasama yang baik dengan pasangan.

Keenam, berdoa agar dimudahkan untuk membimbing anak-anak bermuroja'ah.

Saya rasa cukup sekian tips2 yang bisa saya bagi untuk pembaca. Mohon maaf apabila ada kekurangan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Kebenaran datangnya dari Allah, dan apabila ada kesalahan itu datangnya dari diri saya pribadi.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe2
February 01, 2018

Menikmati Sate Padang Pasar Lama

by , in

Kami sekeluarga bukanlah tipe orang yang gemar berkuliner ria. Kalau sedang bosan dengan makanan rumah, barulah kami hunting kuliner di luar. Itu pun saya rasa tidak terlalu sering. Karena menurut saya, terlalu sering makan di luar juga tidak terlalu bagus untuk kesehatan. Tetap saja lebih sehat makanan yang diolah di rumah. Kita bisa memastikan kesegaran bahan makanan, proses mengolahnya dan juga kebersihannya. Disamping karena penghematan juga tentunya...hehe *emak2modeon

Sore itu, saya memang berniat untuk membeli makanan di luar untuk makan malam keluarga. Entah kenapa suami me-request Sate Padang. Bahkan ketika ditawari Sate Madura, suami saya tetep memilih Sate Padang. Tumben banget...karena kami biasanya lebih memilih Sate Madura. Katanya, lagi kangen Sate Padang. Saya dan suami juga bukanlah penggemar setia Sate Padang. Hanya saja waktu zaman kuliah di UI Salemba, kami sering beli Sate Padang yang ada di depan kampus. Rasa Sate Padangnya cocok dengan lidah jawa kami. Sampai-sampai kami menjadikan rasa Sate Padang depan kampus UI Salemba itu sebagai patokan untuk menilai kelezatan Sate Padang yang kami beli.



Sate Padang yang akan kami cicipi kali ini yaitu Sate Padang Goyang Lidah yang berada di sekitar Pasar Lama, Kota Tangerang. Tepatnya di depan SD Negeri Tangerang I. Pasar lama memang terkenal sebagai kawasan kuliner di Kota Tangerang. Berbagai macam makanan bisa didapatkan disini. Mulai dari Sate Padang, Sate Madura, Soto Mie, Bakso, Nasi Bakar, Roti Cane, Laksa, Nasi Goreng Kambing, Roti Bakar, dan lain sebagainya. Bahkan beberapa pedagang sudah terkenal sejak bertahun-tahun lamanya.



Sate Padang Goyang Lidah harganya cukup terjangkau. Hanya dengan dua puluh ribu rupiah, sudah mendapatkan seporsi Sate Padang. Satu porsi Sate Padang terdiri dari potongan ketupat dan delapan tusuk sate. Kalau tanpa ketupat, akan mendapatkan sepuluh tusuk sate. Saya sengaja beli untuk dibungkus karena sate padang itu rencananya akan disantap di malam hari setelah suami pulang kerja. 

Dan pada malam harinya kami sekeluarga telah siap bersantap di meja makan untuk menikmati Sate Padang tersebut. Sate Padang diguyur dengan saus kental kecoklatan. Sausnya enak perpaduan antara gurih dan pedas. Ketika dimakan bersama satenya terasa sangat nikmat di lidah. Rasanya mendekati rasa Sate Padang yang berada di kampus UI Salemba. Tiga porsi sate padang langsung tandas tanpa bersisa. Itu pun dirasa masih kurang. Karena anak-anak masih pengen nambah lagi. Saya cukup heran, saus Sate Padang itu cukup pedas untuk ukuran anak-anak, tetapi mereka tetap bisa menikmatinya. Walaupun beberapa kali terdengar suara huh-haah...

Bagi Anda yang penasaran dengan rasa Sate Padang ini, bisa langsung ke Jl. A. Dimyati, Pasar Lama, Kota Tangerang.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe1


January 31, 2018

Gerhana Bulan 31 Januari 2018

by , in
31 Januari 2018 sore, sepulang ngaji...
Begitu melihat ummi yang menjemputnya, sulungku ini langsung semangat menceritakan kembali tausiyah yang disampaikan Ustadzahnya tadi.
Mas adzka: Ummi, tadi kata ustadzah kalau ada bulan yang warnanya merah Rasulullah jadi takut...
Ummi: Bulan merah? Maksudnya gerhana bulan?
Mas adzka: Iya, mi...kata ustadzah dah mau kiamat
Ummi: Iya, mas. Betul, kata berita hari ini ada gerhana bulan
Kemudian, Lamat-lamat terdengar suara istighfar...
Ummi:Eh...kenapa mas istighfar?
Mas adzka: Ya kan biar dilindungi sama Allah mi.
Ummi: Betul sekali, kita harus banyak-banyak berdzikir kalau ada gerhana
Dalam hati saya bersyukur, ternyata mas adzka menyerap banyak hal yang disampaikan oleh ustadzahnya.

Gambar: pasangmata.com

PERISTIWA GERHANA

Memang benar, pada saat peristiwa gerhana terjadi di zaman Rasulullah, Rasul segera mengajak umatnya untuk menunaikan shalat gerhana di masjid. Padahal, kita semua tahu bahwa Rasulullah adalah orang yang paling mengetahui segala hal (atas izin Allah) dan juga orang yang paling dijamin dari kesalahan oleh Allah SWT. Tapi, Rasulullah masih tetap merasa takut dan bersikap waspada. 

Lihatlah yang dilakukan oleh Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam (dikutip dari rumaysho.com): 
عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ 
Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah.”22 

An Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai maksud kenapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam takut, khawatir terjadi hari kiamat. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan beberapa alasan, di antaranya: Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat. 23 Hendaknya seorang mukmin merasa takut kepada Allah, khawatir akan tertimpa adzab-Nya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja sangat takut ketika itu, padahal kita semua tahu bersama bahwa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba yang paling dicintai Allah. Lalu mengapa kita hanya melewati fenomena semacam ini dengan perasaan biasa saja, mungkin hanya diisi dengan perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan mungkin diisi dengan berbuat maksiat. Na’udzu billahi min dzalik. 
Sangat berbeda dengan sikap umat zaman now, dimana banyak orang yang bersorak gembira menyaksikan gerhana. Sibuk berfoto dan berselfi ria. Hanya menganggap bahwa gerhana bulan itu peristiwa alam biasa. Lalu, apakah yang seharusnya kita lakukan ketika terjadi gerhana? 

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika terjadi gerhana (dikutip dari rumaysho.com): 

Pertama: perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya. 
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا 
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”5 

Kedua: keluar mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjid. 
Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan shalat.6 Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendatangi tempat shalatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia shalat di situ.7 Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.”8 
Lalu apakah mengerjakan dengan jama’ah merupakan syarat shalat gerhana? Perhatikan penjelasan menarik berikut. 
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, 
فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا 
”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah”.9 
Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan shalat tersebut sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.”10 

Ketiga: wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum pria 
Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata, 
أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ 
“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.”11 
Bukhari membawakan hadits ini pada bab: 
صَلاَةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ فِى الْكُسُوفِ 
”Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.” 
Ibnu Hajar mengatakan, 
أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَة إِلَى رَدّ قَوْل مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَقَالَ : يُصَلِّينَ فُرَادَى 
”Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh shalat gerhana bersama kaum pria, mereka hanya diperbolehkan shalat sendiri.”12 
Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah.13 

Keempat: menyeru jama’ah dengan panggilan ’ash sholatu jaami’ah’ dan tidak ada adzan maupun iqomah. 
Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan, 
أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ. 
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.”14 Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana. 

Kelima: berkhutbah setelah shalat gerhana 
Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat15. 
Hal ini berdasarkan hadits: 
عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ: 
” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”. 
ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “. 
Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. 
Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, 
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” 
Nabi selanjutnya bersabda, 
”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”16 
Khutbah yang dilakukan adalah sekali sebagaimana shalat ’ied, bukan dua kali khutbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i.17 
Sumber : https://rumaysho.com/753-panduan-shalat-gerhana.html

January 30, 2018

Belajar Menulis Lagi...

by , in
Tak terasa blog sudah vakum selama empat tahun lebih, hihihi...
Niat awal membuat blog ini sebagai sarana belajar menulis. Waktu itu keinginan belajar menulis datang dari diri sendiri. Tanpa ada teman untuk sharing mengenai ilmu kepenulisan. Ternyata tidak mudah bagi saya untuk KONSISTEN menulis, apalagi tidak ada yang mengingatkan.

Bersyukur beberapa waktu yang lalu, dek Nurin dkk berinisiatif untuk membuat forum kepenulisan untuk pegawai perempuan BPS. Seminar online yang pertama diisi oleh Pak Iswadi penulis buku "Gampang Cari Uang Dengan Menulis Opini". Seminar berlangsung sangat menarik dan banyak hal positif yang didapatkan oleh para peserta. Sepertinya semua peserta merasakan gelombang semangat yang ditularkan oleh penggagas forum tersebut.

Terima kasih untuk para panitia yang memfasilitasi forum tersebut. Harapan saya, forum tersebut tidak hanya berhenti sampai disini saja.  Namun, nantinya dapat terus berkembang dan mencetak para penulis handal di BPS. Dan untuk saya pribadi, semoga saya dapat terus konsisten untuk menulis.

#perempuanBPS-menulis #menulisasyikdanbahagia

My Instagram